Press "Enter" to skip to content

Konsolidasi Pakar Matematika di Jember, Rumuskan Rekomendasi Kurikulum S1 Hadapi Kebijakan Nasional

Foto Bersama Pengurus I-MES dan IndoMSJember, 8 September 2025 — Sejumlah pakar terkemuka dan perwakilan asosiasi pendidikan matematika dan matematika yaitu I-MES dan IndoMS dari seluruh Indonesia berkumpul dalam sebuah Rapat Konsolidasi yang intensif di Universitas Jember untuk merumuskan rekomendasi kurikulum minimal untuk jenjang S1 Pendidikan Matematika dan Matematika. Diskusi penting ini berorientasi pada penyusunan masukan bagi kebijakan nasional, khususnya terkait dengan implementasi Permen 39 Tahun 2025 (Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi) dan Permen 53 (Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi). Tujuannya adalah memastikan sinergi antar-asosiasi, penyesuaian kurikulum dengan perkembangan terkini, serta penetapan elemen wajib yang harus ada dalam kurikulum.

Sinergi Asosiasi dan Polemik Dokumen Kurikulum

Rapat ini menjadi ajang konsolidasi utama antara dua asosiasi besar, I-MES (Ikatan Magister dan Doktor Pendidikan Matematika Indonesia) yang menaungi bidang Pendidikan Matematika, dan IndoMS (Indonesian Mathematical Society) yang menaungi S1, S2, dan S3 Matematika. Prof. Dr. H. Heris Hendriana, M.Pd., bahkan menggarisbawahi pentingnya sinergi dengan mengusulkan agar Ketua I-MES dapat menjabat sebagai Wakil Presiden IndoMS. Selain itu, Prof. Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, S.Pd., M.Pd., memperkenalkan perlunya melibatkan asosiasi ketiga, P3MI (Perkumpulan Pascasarjana Pendidikan Matematika Indonesia), agar rekomendasi kurikulum yang dihasilkan bersifat ideal dan komprehensif dari ketiga asosiasi. Dalam konteks dokumen kurikulum, muncul perdebatan mengenai kejelasan dokumen, di mana disarankan agar IndoMS dan I-MES menyesuaikan kurikulumnya. Prof. Dr. Budi Murtiyasa, M.Kom. lebih lanjut memperjelas lingkup naungan masing-masing asosiasi, yaitu IndoMS untuk Matematika dan I-MES untuk Pendidikan Matematika.

Penetapan Elemen Kurikulum dan Profil Lulusan

Perdebatan krusial juga menyentuh substansi kurikulum, terutama mengenai konsep “rekomendasi minimal”. Prof. Dr. Nurdin, M.Pd., mempertanyakan apakah rekomendasi minimal ini berarti wajib bagi semua program studi (prodi), sementara Prof. Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, S.Pd., M.Pd., berpendapat bahwa rekomendasi tidak perlu bersifat minimal dan diserahkan kepada pengikut masing-masing prodi. Prof. Dr. Sutarto, M.Pd. menyarankan agar definisi antara rekomendasi minimal dan rekomendasi ditetapkan dengan jelas saat workshop.

Terkait dengan profil lulusan dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), I-MES telah menetapkan tiga profil lulusan (Pendidik Matematika, Peneliti, dan Edupreneur) serta tujuh Bahan Kajian dan tujuh CPL. Disarankan agar CPL disesuaikan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta didiskusikan untuk integrasi internasional. Dr. Imam Sujadi, M.Si., menekankan bahwa bahan kajian harus disesuaikan dengan Permen 39 Tahun 2025 dan wajib memuat tujuh komponen untuk mencapai gelar Sarjana Matematika.

Fleksibilitas Mata Kuliah dan Arah Pengembangan

Para pakar menyepakati bahwa nama Mata Kuliah (MK) dan SKS tidak perlu dicantumkan dalam dokumen rekomendasi kurikulum karena prodi memiliki kewenangan penuh untuk mengembangkannya sesuai dengan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Namun, ada kekhawatiran yang mencuat mengenai potensi hilangnya mata kuliah fundamental seperti Kalkulus dan cluster Persamaan Diferensial, serta pertimbangan bobot 14 SKS untuk Kombinatorika.

Adapun usulan untuk pengembangan kurikulum ke depan mencakup fokus pada Matematika Kontekstual yang relevan dengan pembelajaran di sekolah dan sesuai dengan standar PISA dan NCTM, dengan Kombinatorika dipertimbangkan sebagai komponen minimal. Selain itu, Prof. Dr. Agus Suryanto, M.Sc., mengusulkan penambahan aspek Pemodelan dan Komputasi ke dalam kurikulum. Pentingnya evaluasi kurikulum lama ditekankan oleh Prof. Novriana Sumarti, S.Si., M.Si., Ph.D., dan Prof. Dr. Budi Murtiyasa, M.Kom., sebagai dasar pijakan untuk penyusunan rekomendasi kurikulum yang baru, mengingat perubahan kurikulum dipengaruhi oleh adanya perubahan Peraturan Menteri.

Diskusi intensif yang melibatkan berbagai pakar terkemuka ini diharapkan dapat menjadi fondasi penting untuk merumuskan rekomendasi kurikulum yang komprehensif, terintegrasi, dan relevan, baik dengan tuntutan global maupun kebijakan nasional dalam dunia pendidikan matematika dan matematika.